I prefer drinking caramel coffee.
Then i will have a very looooong shower that i can't feel my fingers.
One day, i will take a book. Read each pages until i understand every single sentences.
The other day, i'm on my black snowman marker, draw some curves, slowly but sure.
On my most blessed day, i will meet someone i like. Then later i finally realize that i've fallen in love.
I wanna take my times as long as i can, when other people can't have caffeine anymore, when water is not free as now, when they've been tired of reading letters, bored on making lines, when they already stop loving.
Some people say i'm a slow person, a safe way-taker, problem-phobic, or somewhat it's called.
I just wanna live every moment the fullest.
That's what i understand of Y.O.L.O.
Yes. I only live once.
(PS: i'm having my first blogger's block rite now. Let me live it the fullest too. Hehe.)
Then i will have a very looooong shower that i can't feel my fingers.
One day, i will take a book. Read each pages until i understand every single sentences.
The other day, i'm on my black snowman marker, draw some curves, slowly but sure.
On my most blessed day, i will meet someone i like. Then later i finally realize that i've fallen in love.
I wanna take my times as long as i can, when other people can't have caffeine anymore, when water is not free as now, when they've been tired of reading letters, bored on making lines, when they already stop loving.
Some people say i'm a slow person, a safe way-taker, problem-phobic, or somewhat it's called.
I just wanna live every moment the fullest.
That's what i understand of Y.O.L.O.
Yes. I only live once.
(PS: i'm having my first blogger's block rite now. Let me live it the fullest too. Hehe.)
( I once said: )
Kepiting itu waktu lagi di darat cuma bisa jalan ke samping. Tapi dia tetep bisa survive. Karena dia mau berusaha ekstra buat berjalan memutar supaya bisa maju ke depan.
( #thinkagain )
Tapi ngapain ya dia ga pilih berenang aja? Di laut, di tempat dia bisa ikut arus dan bergerak lurus. Toh makanannya juga ikan kan.
( #thinkonceagain: )
Mungkin kepiting itu sebenernya meribetkan diri ya secara tidak sadar. Just like me.
mungkin sudah lama ia mengira
perlu jalan dari samping ke samping
memaklumkan tubuhnya tak juga ramping
dan berhelai belati
harus ia terima dengan sabar
seperti menerima berdebar-debar kutukan
dan jalan terbuang-buang
ia meneruskan jalannya
sebelum berenang jadi pilihannya
berenang tak membuatnya tertatih-tatih
karena ia lurus terus nan mulus
perlu jalan dari samping ke samping
memaklumkan tubuhnya tak juga ramping
dan berhelai belati
harus ia terima dengan sabar
seperti menerima berdebar-debar kutukan
dan jalan terbuang-buang
ia meneruskan jalannya
sebelum berenang jadi pilihannya
berenang tak membuatnya tertatih-tatih
karena ia lurus terus nan mulus
- Jalan Kepiting, Umar Fauzi Ballah
Syelamat syiang semuanya.
Kali ini mari kita ngomongin tentang kebudayaan masyarakat Indonesia dewasa ini. Yak, apalagi kalo bukan jejaring sosial atau sering disebut socmed dalam bahasa (yang dianggap) gaul.
Tapi tapi, seperti biasa point of view tulisan kali ini dari sisi saya aja dan dipenuhi berbagai realita personal gitu deh.
*sayup-sayup terdengar suara kursor bergeser ke arah tanda silang kanan atas*
Dalam post ini saya akan menggunakan metodologi sampling, yaitu saya akan mengambil contoh dari beberapa jejaring sosial yang sedang ataupun pernah mampir dalam hidup saya dalam waktu agak lamaan. Yah katakanlah > 3 bulan lah ya.
Di mana pada saat itu halaman profil friendster saya penuh dengan glitter warna-warni yang menyulapkan mata. Dan about me-nya yang diindikasikan panjangnya melebihi satu folio bolak-balik. (Ya. Bakat saya gonta-ganti bio telah terlihat sejak masih belia) Dan kolom testimonials yang penuh dengan "Koq cuma view ajja?"
Astaghfirullahalazim. Sudah sudah, lebih baik kita move on.
Namun seiring berjalannya waktu, kenaifan naluri SMP saya membuat Facebook tak seindah dulu. Saya juga ga ngerti pola pikir saya waktu nge-accept semua friend requests. Dipikir kalo friends-nya banyak jadi sangar gitu po piye ya.
Sebenernya sampai hari ini saya masih rutin sih buka Facebook. Soalnya fiturnya emang paling lengkap daripada socmed yang lain. Cuma ya itu, orang-orang di dalemnya itu lho.
Pernah suatu ketika waktu SMP saya update status marah-marah gitu, tentang masalah sekolah. Dan bodohnya saya lupa kalo salah satu guru ada yang udah temenan sama saya di Facebook. Di-comment deh tuh. Bodohnya lagi saya lupa ibu saya juga punya Facebook! Dan entah bagaimana, semesta berkonspirasi membuatnya melihat status saya yang itu. Dimarahin lah...
3. Twitter
Yuhu. Bisa diibaratkan yang satu ini adalah pacar saya. Rasanya ga bisa gitu ga buka Twitter sehari aja.
Sekadar kepo-kepo, atau retweet ga penting, atau ganti bio. (C'mon, Nis)
Satu-satunya yang saya suka di sini yaitu bisa update status semenit sekali tanpa disangka orang gila! Ya at least karena followers saya isinya temen-temen sepantaran yang sebagian besar juga melakukan hal yang sama.
Satu-satunya yang paling saya inget dari Twitter adalah sindir-sindiran dan ngepo tweets orang. Sumpah ya kayak kekurangan dosa aja. Tapi ya mau gimana lagi ya, itu sudah menjadi sebuah rutinitas buruk yang susah banget dihilangkan. Kalo kata Bu Ambar, "Sedhakep ngawe-awe." Mau tobat tapi niatnya belum beneran.
Tapi ga melulu Twitter isinya begitu kok. Di Twitter saya suka sama konsepnya.
Satu, konsep 140 karakter.
Ga usah ngomong banyak-banyak, biar pembaca yang menafsirkan. Tapi mungkin ini juga kali ya yang menyebabkan proses judge-mengejudge antar pengguna Twitter. Yang jelas sebagian orang bisa melakukan itu, dan membuat mereka punya ribuan followers (dan biasanya ujung-ujungnya launching buku) dan disebut sebagai "selebtwit." Pinter-pinternya aja ya memanfaatkan hal sesederhana Twitter.
Dua, Trending Topic.
Mmm awalnya sih seru. Mempermudah searching hashtag-hashtag yang bermanfaat gitu. Misal waktu gempa Haiti, hashtag lucu-lucu, #indonesiaunite, kamseupay (?), Shinta Jojo Keong Racun (?).
Tapi kok lama-lama sebagian orang menganggap kalo masuk TT itu sangar. Dari acara berita yang kayak kurang event buat diberitakan sampe beritain tweet orang, bahkan acara-acara TV yang udah punya nama sekalipun bawa-bawa masuk Trending Topic World Wide. Trus kon ngapakke. #nomention
Tiga, Follow.
Ini sebenernya udah efisien banget. Yang mau follow silakan, ga suka tinggal unfollow. Tapi masih ada aja yang protes sama isi Timeline-nya sendiri. Ya tapi saya paham sih rasanya pekewuh dimintain folback sama alay yang kebetulan kita kenal..... (Ya. Terimalah bahwa sebagian teman kita menulis tweet yang tidak terlalu sedap dipandang)
2. Tumblr
Merasa terkungkung dengan 140 karakter, saya pun beralih ke Tumblr. Awalnya asik aja. Lama-lama setelah tau Tumblr isinya gambar dan quote lucuk-lucuk, tangan ini gatal dan tak kuasa berhenti reblog.
1. Blogspot
Yang ini ibaratnya selingkuhan saya. Ga pernah saya liat-liatin ke orang, dibukanya juga ga sering-sering amat. Tapi sama dia saya nyaman aja.
Di sini saya merasa lebih jujur daripada di jejaring sosial tersebut di atas. Mungkin di Facebook saya ga berani pasang status lagi. Di Twitter saya kadang ngetweet sok elegan. Di Tumblr saya kebanyakan reblog. Nah, di blogger ini sekali bikin postingan rasanya bener-bener merdeka. Hahaha. Apalagi yang tau blog ini paling juga cuma beberapa orang: yang pernah ngeklik link di Twitter (yang saya pasang 3 hari pertama), yang saya kasih tau, dan yang nge-googling nama saya. Which one are you? Hehehe.
Dan yang jelas mekanika follow di sini berjalan sesuai hakikat awal karena ga banyak usernya. Klik follow nya juga lebih ribet juga sih.
Tapi jujur sejujur apa pun di socmed tetep aja lah ada sisi ga jujurnya. Nunjukin yang bagus aja, itu pun masih dibagus-bagusin. Naluri manusia buat show off emang kegedean. Buat kebanyakan orang sih. Lagi-lagi menurut saya lhoooo.
Kali ini mari kita ngomongin tentang kebudayaan masyarakat Indonesia dewasa ini. Yak, apalagi kalo bukan jejaring sosial atau sering disebut socmed dalam bahasa (yang dianggap) gaul.
Tapi tapi, seperti biasa point of view tulisan kali ini dari sisi saya aja dan dipenuhi berbagai realita personal gitu deh.
*sayup-sayup terdengar suara kursor bergeser ke arah tanda silang kanan atas*
Dalam post ini saya akan menggunakan metodologi sampling, yaitu saya akan mengambil contoh dari beberapa jejaring sosial yang sedang ataupun pernah mampir dalam hidup saya dalam waktu agak lamaan. Yah katakanlah > 3 bulan lah ya.
6. Friendster
Eh yang ini udah kukut dari dulu ya? Yang jelas kalau diibaratkan film, ini adalah Petualangan Sherina yang notabene adalah film pertama yang saya tonton. As well as Friendster ini. Dia cinta pertama saya dalam dunia jejaring sosial. Kami bertemu di awal perkenalan saya dengan dunia maya. Setelah saya bosan membuka situs Primbon dan search gambar-gambar kartun di Google. Kira-kira tahun 2007 gitu waktu masih freshgraduate dari SD. Wakaka.Di mana pada saat itu halaman profil friendster saya penuh dengan glitter warna-warni yang menyulapkan mata. Dan about me-nya yang diindikasikan panjangnya melebihi satu folio bolak-balik. (Ya. Bakat saya gonta-ganti bio telah terlihat sejak masih belia) Dan kolom testimonials yang penuh dengan "Koq cuma view ajja?"
Astaghfirullahalazim. Sudah sudah, lebih baik kita move on.
5. Facebook
Kurang lebih tahun 2008, saya kenalan sama Facebook. Dengan tampilan yang lebih elegan dan simple. Games-nya banyak. Betapa tentramnya Facebook di kala itu sehingga saya memutuskan untuk mencampakkan Friendster. Wall-wallan, comment status, nulis notes, chat, tag foto, main Pet Society, rasan-rasan di group.Namun seiring berjalannya waktu, kenaifan naluri SMP saya membuat Facebook tak seindah dulu. Saya juga ga ngerti pola pikir saya waktu nge-accept semua friend requests. Dipikir kalo friends-nya banyak jadi sangar gitu po piye ya.
Sebenernya sampai hari ini saya masih rutin sih buka Facebook. Soalnya fiturnya emang paling lengkap daripada socmed yang lain. Cuma ya itu, orang-orang di dalemnya itu lho.
Pernah suatu ketika waktu SMP saya update status marah-marah gitu, tentang masalah sekolah. Dan bodohnya saya lupa kalo salah satu guru ada yang udah temenan sama saya di Facebook. Di-comment deh tuh. Bodohnya lagi saya lupa ibu saya juga punya Facebook! Dan entah bagaimana, semesta berkonspirasi membuatnya melihat status saya yang itu. Dimarahin lah...
4. Foursquare
Ini adalah jejaring sosial yang paling susah dipahami. Ga jelas apa motivasi saya daftar Foursquare. Untung cuma bertahan 3 bulan. Check in. Check in. Add Friend. Check in. Check in. Dapet badge. Apaan gitu lho. Kecuali yang mau mengukuhkan eksistensinya sebagai bukan anak rumahan, saya paham sih. Hahaha.3. Twitter
Yuhu. Bisa diibaratkan yang satu ini adalah pacar saya. Rasanya ga bisa gitu ga buka Twitter sehari aja.
Sekadar kepo-kepo, atau retweet ga penting, atau ganti bio. (C'mon, Nis)
Satu-satunya yang saya suka di sini yaitu bisa update status semenit sekali tanpa disangka orang gila! Ya at least karena followers saya isinya temen-temen sepantaran yang sebagian besar juga melakukan hal yang sama.
Satu-satunya yang paling saya inget dari Twitter adalah sindir-sindiran dan ngepo tweets orang. Sumpah ya kayak kekurangan dosa aja. Tapi ya mau gimana lagi ya, itu sudah menjadi sebuah rutinitas buruk yang susah banget dihilangkan. Kalo kata Bu Ambar, "Sedhakep ngawe-awe." Mau tobat tapi niatnya belum beneran.
Tapi ga melulu Twitter isinya begitu kok. Di Twitter saya suka sama konsepnya.
Satu, konsep 140 karakter.
Ga usah ngomong banyak-banyak, biar pembaca yang menafsirkan. Tapi mungkin ini juga kali ya yang menyebabkan proses judge-mengejudge antar pengguna Twitter. Yang jelas sebagian orang bisa melakukan itu, dan membuat mereka punya ribuan followers (dan biasanya ujung-ujungnya launching buku) dan disebut sebagai "selebtwit." Pinter-pinternya aja ya memanfaatkan hal sesederhana Twitter.
Dua, Trending Topic.
Mmm awalnya sih seru. Mempermudah searching hashtag-hashtag yang bermanfaat gitu. Misal waktu gempa Haiti, hashtag lucu-lucu, #indonesiaunite, kamseupay (?), Shinta Jojo Keong Racun (?).
Tapi kok lama-lama sebagian orang menganggap kalo masuk TT itu sangar. Dari acara berita yang kayak kurang event buat diberitakan sampe beritain tweet orang, bahkan acara-acara TV yang udah punya nama sekalipun bawa-bawa masuk Trending Topic World Wide. Trus kon ngapakke. #nomention
Tiga, Follow.
Ini sebenernya udah efisien banget. Yang mau follow silakan, ga suka tinggal unfollow. Tapi masih ada aja yang protes sama isi Timeline-nya sendiri. Ya tapi saya paham sih rasanya pekewuh dimintain folback sama alay yang kebetulan kita kenal..... (Ya. Terimalah bahwa sebagian teman kita menulis tweet yang tidak terlalu sedap dipandang)
2. Tumblr
Merasa terkungkung dengan 140 karakter, saya pun beralih ke Tumblr. Awalnya asik aja. Lama-lama setelah tau Tumblr isinya gambar dan quote lucuk-lucuk, tangan ini gatal dan tak kuasa berhenti reblog.
1. Blogspot
Yang ini ibaratnya selingkuhan saya. Ga pernah saya liat-liatin ke orang, dibukanya juga ga sering-sering amat. Tapi sama dia saya nyaman aja.
Di sini saya merasa lebih jujur daripada di jejaring sosial tersebut di atas. Mungkin di Facebook saya ga berani pasang status lagi. Di Twitter saya kadang ngetweet sok elegan. Di Tumblr saya kebanyakan reblog. Nah, di blogger ini sekali bikin postingan rasanya bener-bener merdeka. Hahaha. Apalagi yang tau blog ini paling juga cuma beberapa orang: yang pernah ngeklik link di Twitter (yang saya pasang 3 hari pertama), yang saya kasih tau, dan yang nge-googling nama saya. Which one are you? Hehehe.
Dan yang jelas mekanika follow di sini berjalan sesuai hakikat awal karena ga banyak usernya. Klik follow nya juga lebih ribet juga sih.
Tapi jujur sejujur apa pun di socmed tetep aja lah ada sisi ga jujurnya. Nunjukin yang bagus aja, itu pun masih dibagus-bagusin. Naluri manusia buat show off emang kegedean. Buat kebanyakan orang sih. Lagi-lagi menurut saya lhoooo.
Dont judge anyone from his profile page
Tadi pagi, saya lagi bongkar-bongkar buku lama. Terus malah jadi baca buku-buku jaman masih kecil dulu. Kumpulan cerpen Bobo, dongeng dari Mizan, Lima Sekawan, Komik Donal Bebek...
Aih, miss them...
Waktu masih baca buku-buku ini, saya inget banget dulu sering banget tanya-tanya ga penting sama orang-orang. Lalu kakak saya pasti jawab dengan sok tahu. Tapi saya juga manggut-manggut aja. Haha.
Aih
Dan rasanya semakin gede, kok saya bukannya tambah mengerti ya. Justru saya malah ga yakin dengan apa yang saya mau dalam hidup ini. Ga kayak dulu, waktu saya bener-bener tau saat saya pengen pengen permen rasa mangga atau krayon faber castel. Waktu dulu kecil pengen jadi tukang gambar buku anak-anak.
Aih.
Bahkan sekarang mau ngapain nanti malem aja bingung. Semakin banyak kerutan di otak kita, semakin banyak kita tahu, semakin kita bisa membedakan yang baik dan yang buruk, semakin apa-apa jadi harus melalui pertimbangan segala macem. Semuanya ada profit-loss. Dan takut salah. Aaaaaaaargh. @#$%^&*(
Aih, miss them...
Waktu masih baca buku-buku ini, saya inget banget dulu sering banget tanya-tanya ga penting sama orang-orang. Lalu kakak saya pasti jawab dengan sok tahu. Tapi saya juga manggut-manggut aja. Haha.
- Kenapa ya kelinci paskah bawa-bawa telur? Kan kelinci gak bertelur?
- Kenapa ya Pluto tidur di rumah anjing, makan-makanan anjing dan ga dikasih baju, padahal Goofy yang juga anjing, tidur di tempat tidur dan nyetir mobil?
- Kenapa awan disebut awan dan pohon disebut pohon?
- Kenapa cairan flush toilet cuma dikasih warna biru? Kenapa ga oranye, hijau, ungu?
- Kenapa ukuran sepatu cewek beda sama cowok?
- Kenapa kalau kita mau pulang kita bilangnya bye-bye tapi kalo pas ketemu kita ga bilang hai-hai?
- Kenapa orang Sunda, orang Padang, orang Batak dan orang Jawa kalau nyanyi logatnya sama tapi kalo ngomong jadinya beda-beda?
- Kenapa freezer di kulkas ga dikasih lampu sama yang bikin kulkas?
- Kenapa telur ayam goreng rasanya ga sama kayak ayam goreng?
- Kenapa handuk perlu dicuci? Kan kita pakai handuk kalau abis mandi, berarti kan badannya bersih.
- Kenapa ABCDEFG diurutinnya gitu kenapa ga BDCEFAG?
- Kenapa ga ada makanan kucing rasa tikus?
- Kenapa apel ada yang warnanya hijau dan ada yang warnanya merah tapi ga ada yang warnanya kuning?
Kenapa disebut polisi tidur?Bodo amat, yang penting gimana caranya supaya ga kena cegatan polisi.
Kenapa sepeda rodanya dua?Penting ya? Yang penting gimana caranya saya harus beli motor baru.
Aih
Dan rasanya semakin gede, kok saya bukannya tambah mengerti ya. Justru saya malah ga yakin dengan apa yang saya mau dalam hidup ini. Ga kayak dulu, waktu saya bener-bener tau saat saya pengen pengen permen rasa mangga atau krayon faber castel. Waktu dulu kecil pengen jadi tukang gambar buku anak-anak.
Aih.
Bahkan sekarang mau ngapain nanti malem aja bingung. Semakin banyak kerutan di otak kita, semakin banyak kita tahu, semakin kita bisa membedakan yang baik dan yang buruk, semakin apa-apa jadi harus melalui pertimbangan segala macem. Semuanya ada profit-loss. Dan takut salah. Aaaaaaaargh. @#$%^&*(
Pengen jadi anak kecil lagi...
Tapi pengen cepet dewasa juga...
Kalau gitu pengen balik kecil sebentar terus balik gede deh...
(Sedang terserang salah satu sindrom beranjak dewasa: mbingungi)
Pernah capek? Pernah menyesal? Pernah merasa melakukan sesuatu yang sia-sia?
Suatu siang, saya males langsung pulang. Saya duduk-duduk di kelas sambil memperhatikan anak-anak kelas saya yang lagi nunggu ekskul Jepang. Mereka lagi ngelipat-lipat kertas warna-warni jadi bunga-bungaan buat dibikin lampion. Saya tertarik dong. Jadilah saya minta diajarin sama Hana, teman saya yang pinter origami.
Buat saya (yang biasanya paling mentok bikin kapal-kapalan dari kertas), origami itu cukup ribet.
Mana kertasnya kecil, otomatis ngelipatnya jadi tambah rumit. Lalu tibalah saya pada bagian ngelipat yang katanya Hana harus hati-hati karena (katanya lagi) bagian yang paling susah. Harus pakai perasaan katanya.
Jadi saya pun melipat-lipat dengan semangat empat lima walaupun salah-salah dan harus ngulangin lagi. Lalu sampailah saya untuk ke bagian selanjutnya. Dan tahukah anda? Bagian selanjutnya ternyata membuka lipatan-lipatan yang rumit tadi! Saya mangkel to the max.
Proteslah saya, "Lho Han, berarti kita melakukan pekerjaan yang sia-sia? Padahal kan tadi udah sepenuh hati ngelipetnya.."
Dan tahukah anda? Saya malah diomelin sama Hana. "Hargai prosesnya dong! Yang tadi kan menghasilkan garis-garis ini. Garis itu buat nantinya buat mempermudah bagian selanjutnya. Namanya juga Origami"
Begitulah ceritanya.
Sampai sekarang konsep itu selalu terngiang-ngiang di pikiran saya.
Sampai sekarang konsep itu selalu terngiang-ngiang di pikiran saya.
Jadi, memang semua itu nggak ada yang sia-sia.
Semata-mata rangkaian dari proses untuk membentuk.
Ditambah lagi beberapa waktu lalu saya diajarkan Pak Padi, guru agama Islam saya di sekolah tentang sebuah ayat.
Yang kurang lebih bunyinya begini:
"Tuhan menjadikan segala sesuatu bukan tanpa manfaat.Hanya akal manusia yang terkadang terbatas untuk mengerti."
Hehe.
