This one is a tribute for our pretty cat, Evelyn.
(I've posted a photo of her in a previous post.)
Dear, Evelyn..
This house is just too empty without your silly meows and your fishy smells and my blanket is never warmer than your dusty fur and i realize i would never want you to stop waking me up in the middle of the night and i would never wish you could clean your own shits up because i miss it now.
Oh i sound like crazy anyway.. We just miss you.
Have fun, Dek Epel. I believe Heaven has the best cereal and most creamy ice cream.
Be good there! Muah.
(It was very sad, she is no longer at our house anymore since she left us too soon last month on June 23. Naughty as always she ran across the street and hit by the wheels of a motorcycle. :( )
Ga tau gimana ya, di rak buku saya waktu kecil terselip dua buku komik Serial Nina ini. Judulnya Anya, Sebatang Kara dan Harry, si Nomor Satu. Kesimpulan saya kalo ngelihat judul-judul seri lain di sampul belakangnya sih..Serial Nina ini semua ceritanya tentang cewek-cewek atletis yang tangguh menghadapi kerasnya hidup. Intinya komik ini bagus lho, dan merupakan salah satu motivasi kanak-kanak saya untuk menggambar. Well, dan ini tadi saya menyelesaikan semacam fan-art Serial Nina. *sounds freak btw*
Ini adalah Anya Aarts, cewek yang berjuang dalam dunia ice-skating di tengah kondisi yang serba kekurangan, plus ibunya lagi sakit. Dia kerja susah payah buat dapet uang ikut kompetisi ini itu, dan diam-diam menyelundup ke arena latihan malem-malem karena ga ada uang untuk beli tiket masuknya. Akhir ceritanya doski jadi bintang dunia seluncur es gitu deh.
Kalau yang ini, namanya Debbie. Sekarang dia adalah atlet berkuda. Sama, dia ini juga dalam keadaan ekonomi pas-pasan gitu. Sampai-sampai kudanya yang ganteng bernama Harry mau dijual sama bapaknya. Tapi karena kegigihannya, dia bisa menang dalam suatu pacuan kuda bergengsi dan dapat hadiah deh. Hore!
Yah, komik-komik Serial Nina ini memang klise, agak menye, dan terlalu dramatis. Tapi komik-komik ini terasa penuh semangat! Gambarnya juga khas komik Eropa yang rapi dan vintage-nya itu lho. Worth to be collected kok kalo ada yang minat. Nanti saya pinjem aja. Hehe.
Kadang-kadang datang suatu hari di mana kita bangun dan melihat hal-hal dengan cara yang berbeda daripada biasanya. Sebenarnya tidak ada yang berbeda, tapi terasa tidak sama. Tiba-tiba saja kita merasa sesuatu menjadi ada, lalu kita sadar bahwa sesuatu itu memang telah ada sejak dari kemarin dan kemarin-kemarinnya.
Seperti hari ini buat saya. Saya naik motor dan menyadari ada taman kota yang biasanya begitu saja terlewat. Saya sampai di rumah dan mendapati bangunan tempat pulang saya setiap hari ternyata cukup besar. Saya berbaring dan merasakan bantal saya ternyata mulai sedikit kempis. Saya membaca ulang sebuah buku dan menutup halaman terakhir dengan perasaan heran kenapa saat membacanya dulu saya tidak mendapatkan 'ini'. Saya minum segelas air dan saya bingung kenapa kemarin-kemarin saya tidak suka minum air putih banyak-banyak. Saya kangen pohon mangga depan rumah, padahal seharusnya saya sudah merindukannya sejak bertahun-tahun yang lalu. Saya juga tidak tahu.
Saat hari-hari seperti itu datang, berlama-lama lah. Mungkin besoknya kita sudah akan lupa lagi. :D
Tiga tahun dan saya coba mengurutkan apa yang masih ada di kepala. Ngekos. Nyiapin MOS. Razia. Menggebet senior. Heboh di X-5. Ikut subsie. Diklat. Biodata. Evaluasi. Evaluasi. Jadi panitia. Buber. End. FGS. Chreaporia. Begadang. Ulangan pagi. Flirting. Nyalin PR Erdana. Smaga sore-sore. DBL. Kantin. Senat. Study tour. Penjurusan. Twitter. Main. IPA 1. Volunteer's week. Liburan. Orasi. Serah terima jabatan. Dikunciin Mbak Ida. Numpang tidur. Nginep di sekolah. Rapat. Proker-proker. Indomie. Smaga magrib. 4 Pilar. E-camp. Geng SD cemara. Naik kelas. Ganesha Operation. Friendzone. Ulangan siang. 'Kacyang'. Boyband. Purna. Telat. Ibuk. Nescafe kaleng. Detik-Detik. Ujian Praktek. UAS. UN. Foto Buken. Les siang. Lulus. Kebaya rempong. Perpisahan.
Semuanya tinggal sepotong-sepotong, tercecer berantakan kayak barang-barang di kamar kos 3x3 meter saya. Macet-macet tapi ga bisa berhenti kayak Mbak Ida, penjaga kosan saya, kalo lagi tsurhat. Ngga sinkron kayak pas lagi duduk siap waktu dievaluasi senior.
Mungkin otak saya butuh laci-laci yang kayak di Spongebob. Biar tinggal buka sesuai kategori, dan pencet play aja ingatan waktu itu kalo lagi pengen. Karena sepertinya buat saya, hal paling menakutkan di dunia adalah lupa.( yang mana sering sekali terjadi sama saya.)
Ketika banyak yang bilang kalo masa SD adalah masa yang paling menyenangkan, sekarang saya ga bisa cerita apa pun. Ketika saya pernah merasa masa SMP adalah masa yang sangat berkesan, sekarang saya cuma bisa membayangkan samar-samar. Saat saya berpikir masa SMA paling berarti, saya takut mengakui. Bukankah lagi-lagi kita harus merantau ke masa yang lain? Menghidupi masa itu sebaik-baiknya sampai yang sudah lewat selalu kalah baik?
Akhirnya semua cuma tergantung seberapa besar kapasitas memori kita. Dan si Kenangan ini ternyata begitu rapuh.Suatu saat ingatan ini pasti akan hilang, hilang, hilang. Ehm. Tapi memang begitulah caranya mempermainkan kita. Ga perlu semua, serpihan-serpihan kecil saja akan membawa kita bernostalgia. Seperti foto-foto gitu. Diam, ga utuh, tapi sejauh ini cukup untuk membuat kita merenungi lagi suatu detik. Duh..
Semuanya tinggal sepotong-sepotong, tercecer berantakan kayak barang-barang di kamar kos 3x3 meter saya. Macet-macet tapi ga bisa berhenti kayak Mbak Ida, penjaga kosan saya, kalo lagi tsurhat. Ngga sinkron kayak pas lagi duduk siap waktu dievaluasi senior.
Mungkin otak saya butuh laci-laci yang kayak di Spongebob. Biar tinggal buka sesuai kategori, dan pencet play aja ingatan waktu itu kalo lagi pengen. Karena sepertinya buat saya, hal paling menakutkan di dunia adalah lupa.( yang mana sering sekali terjadi sama saya.)
Ketika banyak yang bilang kalo masa SD adalah masa yang paling menyenangkan, sekarang saya ga bisa cerita apa pun. Ketika saya pernah merasa masa SMP adalah masa yang sangat berkesan, sekarang saya cuma bisa membayangkan samar-samar. Saat saya berpikir masa SMA paling berarti, saya takut mengakui. Bukankah lagi-lagi kita harus merantau ke masa yang lain? Menghidupi masa itu sebaik-baiknya sampai yang sudah lewat selalu kalah baik?
Akhirnya semua cuma tergantung seberapa besar kapasitas memori kita. Dan si Kenangan ini ternyata begitu rapuh.Suatu saat ingatan ini pasti akan hilang, hilang, hilang. Ehm. Tapi memang begitulah caranya mempermainkan kita. Ga perlu semua, serpihan-serpihan kecil saja akan membawa kita bernostalgia. Seperti foto-foto gitu. Diam, ga utuh, tapi sejauh ini cukup untuk membuat kita merenungi lagi suatu detik. Duh..
Terimakasih untuk kenangannya, Smaga dan seluruh isinya.



